Minggu, 10 Februari 2013

AKU HANYA LULUSAN SD


Sungguh saya tidak menyangka bahwa orang yang ada didepanku ini tidak pernah mengenyam bangku SMP. Kulitnya putih, wajahnya bersinar dan tinggi semampai. Seandainya ia hidup di kota besar mungkin sudah menjadi artis sinetron. Ya… ini hanya angan-anganku saja.
Bermula saat dia mulai cerita tentang kehidupannya. Dia berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal di daerah yang agak terpencil. Sebagai anak pertama, ia harus berusaha mengerti akan keadaan orang tuanya. Ia harus rela hanya mengenyam pendidikan sampai kelas enam saja. Pada waktu itu tidak terpikirkan olehnya, bahwa dunia nyata tidak seindah dan semudah yang dibayangkan (salah satunya bidang pekerjaan). Baru ia sadari saat ini, hampir semua lowongan pekerjaan diperuntukkan bagi orang yang minimal lulusan SMA.
Dengan bermodal ijazah SD, ia nekat pergi ke Bandung untuk mencari sesuap nasi. Alhamdulillah dengan ridho Allah, ia mendapatkan pekerjaan (bukankah Allah SWT menjamin rezeki tiap makhluk ciptaanNya). Betul juga apa yang diucapkannya…. Kita harus yakin akan rahmat Allah SWT dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan olehNya.
Ia melanjutkan cerita kehidupannya, bahwa ia banyak belajar dari teman kerja dan orang yang ada disekitarnya, karena tidak punya kesempatan untuk belajar sampai SMA apalagi kuliah. Setelah melalang buana di kota besar, ia kembali ke kampung halamannya. Dan ini yang menghantarkan ia bertemu dengan seorang pemuda ganteng, lulusan SMA, dan dari keluarga mampu (kelas menengah). Dengan pertemuan yang singkat akhirnya ia memutuskan untuk menikah. Berbeda sekali dengan remaja saat ini, pacaran lama dan ujung-ujungnya tidak jadi menikah. “Daripada berzina lebih baik menikah saja,”ungkapnya . Sekali lagi ku benarkan ucapannya….
Namun ternyata, lagi-lagi dunia tidak berpihak padanya… suami yang sangat ia hormati ternyata suka main tangan. Ia sudah berusaha menerima dan berusaha mejadi istri yang solehah, tapi tetap aja selalu disalahkan (keluhnya). Apakah karena saya hanya lulusan SD? Sehingga dianggap saya tidak tahu apa-apa? Merupakan pertanyaan yang selalu diungkapkannya.
Sambil menghela napas, ia berkata, “Apa salahku? Setiap pagi saya selalu menyediakan sarapan dan sedikit makanan kecil untuk suami dan bapak mertua yang sudah tua dan sakit-sakitan…., dengan ikhlas saya menyiapkannya tiap pagi dengan niat ibadah. Uang belanja yang diberikan suamiku selalu saya terima dengan tersenyum, entah banyak atau sedikit. Sedikit dari uang belanja saya sisihkan untuk jaga-jaga karena penghasilan suamiku tidak menentu. Urusan kebersihan rumah juga tak pernah saya lalaikan. Rumah yang dulu tidak terawat kini tampak indah dan layak untuk ditempati, ya semuanya kulakukan karena ibadah. Bukankah ridho suami, merupakan ridho Allah? Ya…. Tapi lagi-lagi saya sering disalahkan tanpa alasan yang jelas. Apakah karena saya lulusan SD?”  Lagi-lagi itu diucapkan dari bibirnya.
Memang, tidak ada yang salah dari tindakan maupun ucapannya…, bahkan saya mengangguk membenarkan apa yang diucapkannya. Sebagai wanita yang hanya lulusan SD mampu berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi istri yang solehah, mampu mengatur perekonomian keluarga, tegar dalam menghadapi ujian demi ujian, mampu merawat dengan ikhlas mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan, mampu membuat rumah yang dulu tak terawat menjadi layak untuk dihuni. Bagaimana dengan kita? Yang punya kesempatan mengenyam pendidikan sampai SMA bahkan sampai perguruan tinggi. Harusnya kita menjadi lebih baik darinya, karena berbagai pelajaran kita dapatkan dari bangku sekolah. Mungkin, ada yang kuliah jurusan ekonomi atau manajemen namun tidak bisa mengelola keuangan keluarga? Kita punya kesempatan belajar agama sejak SD sampai SMA minimal dua jam dalam seminggu, harusnya kita bisa lebih baik darinya. Marilah kita belajar dari dia yang hanya lulusan SD namun tidak kalah dengan anak lulusan SMA, ia hanya lulusan SD namun berusaha belajar dari lingkungan sekitar untuk selalu berusaha menjadi insan yang lebih baik. Kami menutup pembicaraan hari itu dengan rasa syukur dalam hatiku (terima kasih Allah atas pelajaran hidup yang diberikan hari ini, sehingga menambah rasa syukur atas segala nikmat dan kesempatan yang Kau berikan padaku).