Sungguh
saya tidak menyangka bahwa orang yang ada didepanku ini tidak pernah mengenyam
bangku SMP. Kulitnya putih, wajahnya bersinar dan tinggi semampai. Seandainya
ia hidup di kota besar mungkin sudah menjadi artis sinetron. Ya… ini hanya
angan-anganku saja.
Bermula
saat dia mulai cerita tentang kehidupannya. Dia berasal dari keluarga tidak
mampu dan tinggal di daerah yang agak terpencil. Sebagai anak pertama, ia harus
berusaha mengerti akan keadaan orang tuanya. Ia harus rela hanya mengenyam
pendidikan sampai kelas enam saja. Pada waktu itu tidak terpikirkan olehnya,
bahwa dunia nyata tidak seindah dan semudah yang dibayangkan (salah satunya
bidang pekerjaan). Baru ia sadari saat ini, hampir semua lowongan pekerjaan
diperuntukkan bagi orang yang minimal lulusan SMA.
Dengan
bermodal ijazah SD, ia nekat pergi ke Bandung untuk mencari sesuap nasi.
Alhamdulillah dengan ridho Allah, ia mendapatkan pekerjaan (bukankah Allah SWT
menjamin rezeki tiap makhluk ciptaanNya). Betul juga apa yang diucapkannya….
Kita harus yakin akan rahmat Allah SWT dan bersyukur atas segala nikmat yang
diberikan olehNya.
Ia
melanjutkan cerita kehidupannya, bahwa ia banyak belajar dari teman kerja dan
orang yang ada disekitarnya, karena tidak punya kesempatan untuk belajar sampai
SMA apalagi kuliah. Setelah melalang buana di kota besar, ia kembali ke kampung
halamannya. Dan ini yang menghantarkan ia bertemu dengan seorang pemuda
ganteng, lulusan SMA, dan dari keluarga mampu (kelas menengah). Dengan
pertemuan yang singkat akhirnya ia memutuskan untuk menikah. Berbeda sekali
dengan remaja saat ini, pacaran lama dan ujung-ujungnya tidak jadi menikah. “Daripada
berzina lebih baik menikah saja,”ungkapnya . Sekali lagi ku benarkan
ucapannya….
Namun
ternyata, lagi-lagi dunia tidak berpihak padanya… suami yang sangat ia hormati
ternyata suka main tangan. Ia sudah berusaha menerima dan berusaha mejadi istri
yang solehah, tapi tetap aja selalu disalahkan (keluhnya). Apakah karena saya
hanya lulusan SD? Sehingga dianggap saya tidak tahu apa-apa? Merupakan
pertanyaan yang selalu diungkapkannya.
Sambil
menghela napas, ia berkata, “Apa salahku? Setiap pagi saya selalu menyediakan
sarapan dan sedikit makanan kecil untuk suami dan bapak mertua yang sudah tua
dan sakit-sakitan…., dengan ikhlas saya menyiapkannya tiap pagi dengan niat
ibadah. Uang belanja yang diberikan suamiku selalu saya terima dengan
tersenyum, entah banyak atau sedikit. Sedikit dari uang belanja saya sisihkan
untuk jaga-jaga karena penghasilan suamiku tidak menentu. Urusan kebersihan
rumah juga tak pernah saya lalaikan. Rumah yang dulu tidak terawat kini tampak
indah dan layak untuk ditempati, ya semuanya kulakukan karena ibadah. Bukankah
ridho suami, merupakan ridho Allah? Ya…. Tapi lagi-lagi saya sering disalahkan
tanpa alasan yang jelas. Apakah karena saya lulusan SD?” Lagi-lagi itu diucapkan dari bibirnya.
Memang,
tidak ada yang salah dari tindakan maupun ucapannya…, bahkan saya mengangguk
membenarkan apa yang diucapkannya. Sebagai wanita yang hanya lulusan SD mampu berusaha
dengan sekuat tenaga untuk menjadi istri yang solehah, mampu mengatur
perekonomian keluarga, tegar dalam menghadapi ujian demi ujian, mampu merawat
dengan ikhlas mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan, mampu membuat rumah
yang dulu tak terawat menjadi layak untuk dihuni. Bagaimana dengan kita? Yang
punya kesempatan mengenyam pendidikan sampai SMA bahkan sampai perguruan
tinggi. Harusnya kita menjadi lebih baik darinya, karena berbagai pelajaran
kita dapatkan dari bangku sekolah. Mungkin, ada yang kuliah jurusan ekonomi
atau manajemen namun tidak bisa mengelola keuangan keluarga? Kita punya
kesempatan belajar agama sejak SD sampai SMA minimal dua jam dalam seminggu, harusnya
kita bisa lebih baik darinya. Marilah kita belajar dari dia yang hanya lulusan
SD namun tidak kalah dengan anak lulusan SMA, ia hanya lulusan SD namun
berusaha belajar dari lingkungan sekitar untuk selalu berusaha menjadi insan
yang lebih baik. Kami menutup pembicaraan hari itu dengan rasa syukur dalam
hatiku (terima kasih Allah atas pelajaran hidup yang diberikan hari ini,
sehingga menambah rasa syukur atas segala nikmat dan kesempatan yang Kau
berikan padaku).